Perjuangan Wanita Iran dan Sepakbola

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Sepakbola adalah sebuah permainan yang sangat indah dan lekat dihati banyak orang. Permainan ini sangat populer diseluruh dunia karena permainan ini menawarkan sebuah permainan yang sangat menarik serta merupakan hiburang yang sangat menyenangkan. Sangat asyik ketika kita melihat para pemain sepakbola berlari sambil memperebutkan bola.

Namun keasyikan ini tidak berlaku bagi semua orang, di Iran, yang bisa menikmati asyiknya permainan bola hanyalah para pria sementara para wanitanya tidak boleh menikmati secara langsung. Mereka hanya bisa menikmati dari layar televisi saja. Hal ini karena wanita Iran dan sepakbola dipisahkan. Hadir di stadion dan menonton sepakbola dan duduk berdampingan dengan pria adalah haram dan dilarang oleh pemerintah.

Aturan ini berlaku sejak terjadi revolusi Islam di Iran dan wanita diberlakukan aturan yang sangat ketat. Tidak hanya larangan menonton sepakbola namun juga pekerjaan sulit didapat, pakaian yang diatur sedemikian ketat, dan banyak lagi. Namun perubahan mulai terasa waktu Rafsanjani menjadi Presiden di 1990an. Cadar wanita mulai ditinggalkan dan pendidikan mulai dibuka untuk wanita.

Dulu bahkan menonton bola lewat televisi saja haram pada jaman Khomeini karena wanita Iran akan melihat aurat para pemain yang notabene hanya memakai celana sedikit dibawah paha. Kebijakan ini diprotes oleh banyak pihak, salah satunya adalah film besutan sineas Jafar Panahi berjudul “Offside”. Isu yang diangkat dalam film ini ringan tapi sangat mendalam yang dikemas dalam film yang natural dan kocak.

 

Film Offside ini dibuat pada tahun 2006 dengan latar belakang permainan sepakbola antara Iran vs Bahrain di Stadion Azadi Teheran. Pertandingan ini penting bagi iran karena menentukan lolosnya negara ini ke Piala Dunia di Jerman. Panahi dengan cermat memanfaatkan Passion atau kecintaan masyarakat Iran terutama wanita Iran dan sepakbola yang muncul pada laga tersebut.

Ternyata passion wanita Iran terhadap sepakbola sering lebih besar daripada para prianya. Film “Offside” sendiri dikemas dalam anekdot yang oleh pemerintah Iran dianggap sedang menyindir dan mengkritik keberadaan rezim. Tak ayal film ini dilarang untuk disebar keseantero negeri namun karena jasa para pemasok film bajakan, film ini berhasil beredar dengabn luas.

Pesan yang disampaikan Panahi merupakan pesan perjuangan wanita Iran dan sepakbola agar mereka bisa menikmati pertandingan sepakbola dengan bebas.Akibatnya Panahi dihukum selama 6 tahun penjara dan dilarang berkarya selama 20 tahun serta ditendang dari dunia perfilman. Dia juga dilarang berbicara kepada pers atau pergi ke luar negeri.

Pada kenyataanya, memang wanita Iran dilarang menonton pertandingan sepakbola. Tapi mereka tetap saja bersemangat dan rela memotong rambut dan mengempiskan dada mereka agar bisa mendapatkan tiket masuk kedalam stadion. Namun jika ketahuan mereka wanita, mereka akan langsung diseret, disiksa dan dihukum. Yang paling parah adalah keluarga mereka menjadi malu.

Be Sociable, Share!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>